Whole-hearted to Change

Change Your Words — Change Your World

witzenhausen dan sekitarnya August 25, 2008

Filed under: Uncategorized — Trina Tallei @ 8:35 am

Ah, hatiku berdebar-debar, penasaran. Seperti apa sih negara Jerman yang sudah lama aku impikan untuk aku kunjungi. Setelah menempuh belasan jam di pesawat (Jakarta – Frankfurt) dan sekitar 3 jam perjalanan dari Frankfurt, sekitar jam 4 sore kami tiba di stasiun kereta api Witzenhausen Nord. Kami disambut oleh Maria dan Michu yang kemudian membawa kami ke Am Sande No. 1, tempat tinggal kami selama 2 bulan 1 minggu dalam rangka mengikuti pelatihan University Staff Development Program atau UNISTAFF yang diselenggarakan oleh ISOS (Institute for Socio-Cultural Studies), Universitas Kassel di Witzenhausen. Saya tidak menyangka kalau Witzenhausen itu adalah kota kecil. Walaupun kecil kotanya termasuk modern dan dilengkapi oleh beberapa supermarket dan infrastruktur lain yang modern serta merupakan tempat yang ideal untuk belajar.

Dengan penduduk sekitar 20.000 orang, Witzenhausen, yang dikenal juga dengan nama kota Cherry, terletak di sebelah utara Hessen, bagian tengah Jerman, dan dikelilingi oleh hutan Kaufunger dan gunung Hoher Meissner, kira-kira 40 km dari Kassel dan 25 km dari Goettingen. Kota ini terletak sangat dekat dengan perbatasan dengan German Democratic Republic dan merupakan salah satu jalan masuk utama ke Jerman Barat pada tahun 1989. Terdapat juga gereja “Liebfaruenkirche” yang dibangun mungkin sekitar tahun 1332, kapel St. Michael yang dibangun sekitar 1392 dan Rat Haus (Town Hall) yang dibangun tahun 1819. Wilhemmitenkloster pada tahun 1291 adalah sebuah kloster (biara) dan sekarang ini menjadi Institute of Ecological and International Rural Development, Universitas Kassel di Witzenhausen, di mana tempat kami belajar selama 2 bulan.

Di kota ini pada setiap tahun diadakan Cherry Festival dengan pemilihan cherry queen, old town festival, lomba meludah biji cherry (kirschsteinspucken), serta triathlon (bersepeda, berenang, dan lari) untuk pemilihan Cherry man.

Yang menyenangkan selain mengikuti training, setiap minggu kami memiliki kegiatan berkunjung ke kota-kota terdekat yang tentu saja menyimpan sejarah yang luar biasa, antara lain Bad-Sooden, Hann Muenden, Eisenach, Weimar, Kassel, Goettingen, Marburg, dan kota-kota besar lainnya seperti Berlin, Bonn, Cologne, Hamburg, dan Hannover. Kami dibuat tercengang-cengan karena setiap kota yang kami kunjungi memiliki keunikan dan sejarahnya sendiri.

 

          cherry1

 

        witzenhausen1

 

Bad Sooden

bad sooden Bad Sooden merupakan sebuah kota kecil di distrik Werra-Meissner-Kreis, masih di Hesse, di mana mengalir di dalamnya sungai Werra. Kota ini terletak tidak jauh dari Witzenhausen, hanya sekitar 1 jam perjalanan gebang badsoodenmenggunakan mobil. Kota kecil ini sangat rapih, kami merasa seperti di daerah dongeng.   

 

    

East German Border Museum

Museum perbatasan Jerman Timur ini terletak di sebelah timur Bad Sooden – Allendorf, yang terletak di bagian tengah Jerman. Memasuk museum ini kami bisa merasakan suasana yang mencekan yang dialami oleh warga Jerman beberapa tahun yang lalu ketika masih ada pemisahan Jerman Barat dan Jerman Timur. Pada jaman dulu ketika masih ada Jerman barat dan Jerman Timur, orang-orang yang berusaha menyeberang secara ilegal melewati perbatasan ini ditangkap atau ditembak. Perbatasan ini dilengkapi dengan pagar-pagar setinggi kira-kira 2 meter yang terbuat dari baja dengan jeruji yang tajam dilengkapi dengan kawat berduri. Menara-menara pengawas ditempatkan pada posisi yang strategis di sepanjang perbatasan. Di samping itu, di sebelah pagar baja terdapat jalan untuk patroli. Di sebelah jalan, lahan berumput yang ditanami dengan ranjau-ranjau. Terdapat juga lampu pencari otomatis yang dilengkapi dengan senjata-senjata otomatis. Lahan berumput ini lebarnya ratusan meter. Di sebelah lapangan rumput ini (masih termasuk daerah terlarang) masih ada lagi pagar. Sehingga orang yang melarikan diri menyangka apabila sudah berada di lapangan rumput mereka sudah bebas, ternyata belum.

 

border_museum

 

Peristiwa yang paling terkenal dari perbatasan ini adalah seorang penjaga dari Jerman Timur yang menyangka telah berhasil melintasi perbatasan dan sampai di Jerman Barat, tetapi ditembak ketika ia hampir saja mencapai pagar yang kedua. Dia menggunakan traktor dan meloncat dari atas traktor melewati pagar pertama, dan berlari menyeberangi lapangan rumput. Traktor yang dipakai oleh penjaga tersebut masih ada dan melihatnya saja kami sudah merasa seram, apalagi melihat lokasi penembakan walaupun dari jauh saja. Museum ini merupakan basis penjagaan di sepanjang perbatasan, dan kita masih dapat melihat bunker, menara dan pagar-pagarnya, juga helikopter buatan Rusia.

 

 

Eisenach

Eisenach, kota kecil lainnya yang menarik yang kami kunjungi ini kira-kira 1 jam perjalanan dari Witzenhausen. Bachhaus (Rumah Bach) di Eisenach merupakan museum pertama di dunia yang didedikasikan bagi Johann Sebastian Bach. Neue Bachgesselschaft (New Bach Society) membeli bangunan ini pada tahun 1906 karena menganggap gedung itu merupakan tempat lahirnya Bach. Sejak 1907, penghuni pada Frauenplan di Eisenach, yang sekarang berusia lebih dari 600 tahun, dijadikan museum. Tujuannya adalah untuk menyediakan informasi mengenai Bach kepada publik dan bagi yang peduli pada musik Bach. Teman kami, Ruth, dari Honduras sangat tergila-gila dengan museum ini mengingat dia memang mengajar musik di universitasnya. Tentu saja museum ini juga merupakan favoritnya Maggie (Costa Rica) yang mengajar sejarah dan Belen (Philppines) yang merupakan professor di bidang teater.

 

Bach haus

 

 

Kastil Wartburg

Kastil Wartburg terletak pada ketinggian 1230 m, melalui Eisenach, kota yang awalnya berada dalam genggaman tirai besi Jerman Timur. Kastil ini ditemukan oleh Duke Ludwig (Ludwig the Jumper) pada 1067 dan merupakan Kastil yang terawat dengan baik di Jerman, dipenuhi dengan ornamen abad pertengahan. Kastil ini direnovasi khususnya selama periode Roman pada abad 199. Tahun 1952-1966, seluruh kastil direstorasi oleh pemerintah Jerman Timur kembali ke abad 16. Martin Luther, yang dikucilkan oleh Paus dan dicabut perlindungan hukumnya oleh raja, mencari perlindungan dalam pondok pembantu kepala polisi di Wartburg. Selama berbulan-bulan perlindungannya, dia tinggal dan bekerja dalam suatu ruangan yang sempit, sekarang kamar itu disebut kamar Luther. Hanya dalam waktu 10 minggu dia menerjemahkan Perjanjian Baru dari teks asli bahasa Yunani ke bahasa Jerman.

 

Wartburg

 

Hann Munden

Kota kecil yang indah ini hampir saja terlupakan padahal jaraknya hanya 10 menit naik kereta api dari Witzenhausen Nord ke arah Kassel dan masih merupakan distrik Goettingen pada pertemuan sungai Fulda dan Werra, yang bergabung membentuk sungai Weser. Awalnya kami berniat mengunjungi Hann Munden hanya karena Nur (Jambi) bilang kalau di sana kita bisa naik perahu besar untuk melihat fenomena pertemuan antara dua sungai tersebut. Tapi kemudian kami batalkan karena untuk satu orang kami harus merogoh kocek 8 euro dan minimal penumpang harus 10 orang, sedangkan yang pergi saat itu hanya saya, Lani, Maggie, Nur dan Marjono (Malang), dengan demikian masing-masing dari kami harus membayar 16 euro. Walaupun demikian kami sangat terhibur melihat keindahan bangunan-bangunan kuno, terutama Rat Haus-nya yang memiliki arsitektur yang menawan.

Hann_Muenden

Hann Muenden, awalnya disebut Hannoversch Muenden, merupakan kota kecil lainnya di Lower Saxony, Jerman. Penduduknya sekitar 28.000 orang dan terkenal karena rumah-rumah tuanya, beberapa di antaranya telah berusia 600 tahun. Alexander von Humboldt menyatakan bahwa Hannoversch Muenden merupakan satu dari tujuh kota-kota yang paling cantik di dunia. Tempat ini dikatakan sebagai sumbangan Gimundi kepada biara Fulda (tahun 802). Hak-hak kota mungkin diberikan selama abad ke 12. Nama kotanya awalnya adalah Muenden. Nama resminya diganti menjadi Hannoversch Muenden karena afiliasinya dengan kerajaan Hannover untuk membedakan Muenden dari Minden. Kemudian untuk menghindari kesalahpahaman dengan Hannover, nama kota disingkat menjadi Hann. Muenden. Penduduknya masih menyebut kotanya dengan Muenden. Kota ini memiliki lebih dari 700 rumah yang separuh dibuat dari kayu, yang dibangun pada periode abad ke 6. Kota ini berada di lembah dan dikelingi oleh bukit-bukit Reinhardswald, Bramwald dan Kaufungerwald. Sebelah timur dari pusat kota Muenden terdapat Taman Hutan, yang dibangun 100 tahun lalu oleh Academi Kehutanan, di sana terdapat ribuan spesies pohon. Di sebelah barat daya kota, dekat dengan Werra, di atas bukit terdapat Schloss (istana) yang dibangun sekitar abad 166, sekarang dijadikan pusat kebudayaan. Sayang sekali kami tidak sempat ke sana. Sedikit ke arah baart terdapat bengkel kerja seniman Ochsenkopf dan batu Werrabruecke (1397-1402). Di Markplatz, terdapat Rathaus (Town Hall), sebuah bangunan Gothic.

clip_image035

 

Kassel

Nama kota ini berasal dari kata kuno Castellum cattorum, sebuah kastil dari suku Chatti, suku Jerman yang tinggal di daerah ini sejak jaman Romawi. Kota ini terletak kira-kira 45 menit dari Witzenhausen, terletak di tengah Jerman, merupakan pusat industri, perkeretaapian, dan budaya. Terdapat juga pabrik termasuk tekstil, optik, lokomotif dan kendaraan. Kassel ditemukan tahun 913 dan diresmikan tahun 1198. Tahun 1567 menjadi ibu kota Hesse-Kassel. Kassel juga menjadi ibu kota kerajaan Westphalia (1897-1813) di bawah Jérôme Bonaparte (saudaranya Napoleon). Sebagai pusat produksi pesawat dan tank di Jerman pada Perang Dunia II, Kassel dihancurkan oleh sekutu melalui serangan udara sehingga banyak gedung-gedung bersejarah hancur. Gedung bersejarah yang bertahan terutama di luar kota. Kassel memiliki banyak museum yang penting. Eksibisi internasional (Dokumenta) seni modern diadakan setiap lima tahun sekali di kota dan dianggap sebagai salah satu ekshibisi seni terbesar di dunia. Tahun 2007, penduduknya mencapai sekitar 198.500 orang dan dengan luas area 106,77 kilometer persegi. Diceritakan bahwa pada awal abad 16, Grimm bersaudara tinggal di Kassel dan mengumpulkan serta menulis banyak sekali cerita dongeng.

 

Kassel1

Dari pusat kota kira-kira 20 menit menggunakan tram dan dilanjutkan 10 menit menggunakan bus ke arah utara dari Wilhelmshöhe kita bisa mendapatkan istana Wilhelmshöhe yang terletak di atas bukit, dibangun tahun 1786 oleh Wilhelm IX dari Hesse-Kassel. Istana sekarang menjadi museum dan galeri lukisan di mana merupakan koleksi kedua terbesar Rembrandt di Jerman terdapat di sana. Istana ini dikelilingi oleh taman yang indah. Dari istana kita dapat melihat suatu struktur batu besar yang berbentuk oktagonal di atasnya terdapat replika patung Herkules setinggi 8,5 m yang dibuat oleh Johann Jacob Anthoni (1713-1717) (patung asli Herkules terdapat di Museo Archeologico Nazionale di Naples, Italia), dan menjadi maskot kota. Dari dasar oktagon ini menuju istana Wilhelmshöhe, terdapat serangkaian kaskade yang memukau para pengunjung selama musim panas. Sepanjang kaskade ada banyak anak tangga di mana kita bisa menuruni bukit di samping air terjun. Air terjun hanya diaktifkan pada hari minggu mulai jam 3 sore. Sangat mengagumkan melihat air menuruni anak-anak tangga dengan mengeluarkan suara yang mengagumkan. Yang paling mengagumkan adalah air mancur yang muncul di taman di antara oktagon dengan istana Wilhelmshöhe yang bisa mencapai ketinggian 52 meter. Air mancur ini muncul akibat tekanan air yang meluncur melalui kaskade

 

Weimar

Kota weimar (2 jam perjalanan dari Witzenhausen dengan kereta api), terletak di daearah Thuringia (Thüringen). Sebelah utara kota ini adalah hutan Thueringer, timur Erfurt, barat laut Halle dan Leipzig. Dengan populasi sekitar 64.000, Weimar dulunya merupakan ibu kota Saxe-Weimar (Sachsen-Weimar). Kota ini merupakan situs budaya Eropa yang termasyur dan merupakan rumah bagi orang-orang termasyur seperti Bach, Goethe, Schiller, dan Herder. Juga merupakan tempat ziarah bagi cendekia Jerman sejak Goethe pindah ke Weimar di akhir abad 18.

Weimar1

Kota ini memiliki galeri seni, museum dan teater Nasional Jerman. Universitas Bauhaus dan Sekolah Musik Liszt menarik pelajar yang ingin mempelajari media dan desain, arsitektur, teknik sipil dan musik.

Selama perang Dunia II, di dekat Weimar kamp konsentrasi di Buchenwald, hutan kecil di mana sering dikunjungi Goethe, hanya sekitar 8 km dari pusat kota. European Council of Ministers memilih kota ini sebagai Pusat Budaya Eropa pada tahun 1999.

Deutsche National Theatre

Johann Wolfgang von Goethe tinggal di rumah Barok (Goethe Haus) selama hampir 15 tahun. Perabotan yang dimiliki oleh Goethe masih terpelihara dengan baik begitu juga dengan pianonya. Demi konservasi, pengunjung untuk memasuki rumah Goethe dibatasi dan dilarang menyentuh dan memotret apa pun. Kami beruntung bisa memasukinya dengan membayar 6 Euro untuk setiap orang

 

 Sayang, dua bulan lebih telah berlalu. Periode yang cukup lama namun terasa singkat ini menyisakan kenangan yang sangat banyak, di antaranya kebersamaan kami selama tinggal dalam satu bangunan, bersama-sama dengan teman-teman dari 10 negara lainnya dengan latar belakang etnis yang berbeda-beda, penuh dinamika dan setelah berpisah membuat kami saling merasa kangen satu sama lain. Untungnya ada fasilitas dunia maya alias internet sehingga kami masih bisa bertukar-tukar berita dalam satu maling list, dan kadang-kadang saling sms bahkan saling telefon satu sama lain (walau pun yang terakhir ini menguras banyak rupiah). Ada satu kesan yang tertinggal bahwa pada beberapa kota yang kami kunjungi, peninggalan sejarah misalnya rumah-rumah kuno yang berusia ratusan tahun yang terbuat dari kayu masih tetap di pertahankan walaupun di pusat kota sekalipun, begitu juga dengan museum-museum yang dikelola dengan sangat profesional. Semoga kota-kota di negara kita ini mengikuti jejak mereka. (Trina Tallei)

 

Pesona Kota Tua KANAZAWA August 24, 2008

Filed under: Jalan-jalan — Trina Tallei @ 3:03 pm
Tags: , , , ,

(Femina, No.3/XXXIII, 20-26 Januari 2005)

Trina Tallei

Selain memiliki nilai historis, kota ini menyimpan segudang keindahan. Ibarat wanita matang yang rajin memoles diri, kota tua yang memikat ini tak ketinggalan zaman dibandingkan dengan kota lainnya di Jepang. Setahun di memberi saya banyak kesempatan untuk menjelajahi berbagai tempat bersejarah di sana dan mempelajari berbagai tradisi yang unik. Di Kanazawa, saya harus mengakui, betapa orang Jepang jago mempertemukan tradisi dan perkembangan kemajuan secara harmonis.

Kota Tua yang Modern

Kanazawa merupakan ibukota Ishikawa perfecture, sebuah daerah administrasi di sepanjang Laut Jepang. Kota ini terbilang besar, walaupun penduduknya hanya sekitar 450.000 jiwa. Lalu lintasnya cukup padat. Sebagian besar jalan di sini dipadati bus kota. Kanazawa merupakan kota kedua terbesar (setelah Kyoto) yang lolos dari serangan udara ketika meletus Perang Dunia II. Karena itu, k ondisi sejumlah kastil, kuil, dan tempat wisata di sana tetap terjada baik.

Kota yang tenang ini juga dikenal sebagai perpustakaan dunia karena menyimpan banyak koleksi artis dan ilmuwan. Selain itu, Kanazawa telah melahirkan filsuf ternama, Suzuki Daisetsu dan Nishida Kitaro, penulis Izumi Kyoka dan Tokouda Shusei, serta penyair Muro Saisei.

Sejak zaman Shogun, penduduk Kanazawa telah mempelajari berbagai budaya dan tradisi Jepang. Tak mengherankan, Kanazawa juga sering disebut sebagai harta karun seni tradisional. Salah satu sejarah yang perlu diketahui adalah lahirnya jenis teater baru. Pada abad ke-14, pemain sandiwara Sarugaku, Kiyotsugu Kan’ami, bersama puteranya, Motokiyo, menciptakan jenis teater yang menggabungkan elemen Sarugaku dan Dengaku.

enjoy_zakura

Salah satu yang yang menarik perhatian saya di Kanazawa adalah Taman Kenroku-en, salah satu taman terindah di Jepang. Taman yang terletak di luar Kastil Kanazawa ini adalah milik pribadi keluarga Toshije Maeda (raja pertama kelompok masyarakat Maeda). Taman seluas 10,1 hektar yang kabarnya dibangun selama lebih dari dua abad ini tertutup untuk umum sampai tahun 1871. Di taman ini terdapat banyak kolam, sungai kecil, air terjun, jembatan, rumah teh, dan berbagai macam bunga. Sistem perairan Kenroku-en terbilang unik. Pada 1632, dengan menggunakan teknologi canggih, dari sebuah sungai yang terletak di bawah taman, dialirkan air ke taman tersebut.

Kenroku-en bermakna ‘Taman dengan Enam Keagungan’, karena memiliki enam faktor yang menjadi keunikannya: luas area, keantikan, jumlah air, pemandangan indah, cara pembuatannya, dan lokasi.

 

kenrokuen_dingin_gugur

Menurut teori Cina, semua hal tersebut adalah enam faktor yang membuat taman menjadi sempurna. Pada akhir musim gugur, pohon-pohon di taman tersebut dipersiapkan agar mampu menghadapi salju yang lebat ketika musim dingin tiba. Agar tidak mudah patah, dahan-dahan pohon  disanggah oleh kait dan tali sehingga membentuk pola unik yang disebut yukitsure.

Kastil Kanazawa merupakan tempat tinggal keluarga Maeda sejak Toshije Maeda pertama kali mengginjakkan kaki di sana (1583). Berdasarkan sejarah, kastil ini sudah beberapa kali terbakar. Yang terakhir terjadi pada 1881, dan hanya menyisakan gerbang Ishikawa yang berada di sebelah utara taman, persis menghadap Kenroku-en. Pada Marea 1998, kastil itu mulai dibakenrokuen_malam_panasngun kembali, setelah sekitar 3 tahun bangunan Hishi-yagura, Gojikken-nagaya, dan Hazhizu-memon berhasil direstorasi. Ketiga bangunan ini adalah kastil kayu yang terbesar di Jepang sejak era Meiji.

Bangunan bersejarah lainnya adalah Oyama Shrine yang khusus didirikan bagi Toshije Maeda pada 1599. Di tempat suci ini terdapat sebuah gerbang, bagian dari Kastil Kanazawa, yang kemudian menjadi gerbang utama Oyama Shrine. Dari Stasiun Kanazawa, Oyama bisa ditempuh selama 10 menit berkendara menggunakan bus.

Ada area yang begitu menarik perhtaian saya, yaitu Nagamachi, yang dulunya terletak di bawah Kastil Kanazawa. Nagamachi adalah tempat tinggal para samuari. Suasana bersejarahnya sangat terasa, karena rumah samurai berdinding tanah liat dan jalanan di situ berupa jalan setapak. Rumah Nomura yang berada di daerah ini merupakan salah satu rumah Samurai yang elegan.

                        rumah_samurai_nomura

 

Selain rumah samurai, terdaapt Kaga Yuzen, yaitu workshop pewarnaan sutra yang bisa dikunjungi oleh wisatawan. Di oyama_shrinesini, wisatawan memperoleh pengetahuan tentang cara mencampur warna dan  melukis rancangan gambar di atas selembar sutra.

Satu tempat yang tak boleh dilewatkan adalah area Teramachi (disebut juga sebagai Kota Kuil). Bangunan utamanya Ninjadera (artinya mata-mata Jepang) atau Kuil Ninja. Disebut begitu karena di lokasi ini banyak terdapat tempat yang digunakan untuk pertahanan diri misalnya terowongan tersembunyi, kamar rahasia, labirin, dan tangga-tangga yang rumit. Untuk memasuki area Ninja-dera, wisatawan harus melalui reservasi terlebih dahulu dan harus ditemani pemandu karena kalau tidak bisa tersesat di dalamnya.

 

 

                          ninja_dera

 

Menikmati Beragam Festival

Saya sempat menyaksikan festival Hyakumangoku yang diadakan setiap 14 Juni. Acara ini dilakukan untuk mengenang datangnya Toshije Maeda di Kanazawa. Saat festival berlangsung, jalanan kota dipenuhi parade prajurit yang mendemonstrasikan cara Toshije mengambil alih kastil. Kolam dan sungai di sekitarnya dihiasi lentera kertas. Sungguh merupakan pemandangan yang indah sekali!

hyakumongaku

Salah satu kejadian yang juga unik bagi saya adalah festival Otabi di Komatsu. Sebagai mahasiswa asing di Universitas Kanazawa, kami diberi kesempatan untuk menginap satu malam di rumah keluarga Jepang. Tempat yang kami pilih adalah Komatsu, sister city Kanazawa. Saya menginap di rumah keluarga Tsujii, seorang profesor di salah satu universitas negeri di Komatsu. Mereka sekeluarga sangat ramah.s aya terperangah ketika mendapati bahwa di rumah itu juga bermukim ibunda Tsujii yang berumur 80 tahun dan neneknya Tsujii yang berusia 105! Anehnya, ia sama sekali tidak pikun dan matanya masih sangat tajam dan awas.

Ketika tinggal di sana, kebetulan sedang berlangsung festival tahunan Otabi. Mikoshi (kuil yang ditandu) dari Ubashi Shrine dan Moori Hiyoshi Shrine diarak berkeliling kota. Kami juga membantu menarik arak-arakan tersebut. Anak-anak juga ikut serta dalam kemeriahan festival. Mereka pun menyuguhkan pertunjukan teater Kabuki.

otabi_festival

Tak ketinggalan pula festival Foodpia Kanazawa, yaitu festival makanan. Biasanya festival ini diadakan di awal Februari di berbagai area di seluruh Ishikawa. Pengunjung mendapat kesempatan mencicipi aneka makanan khas Ishikawa. Masyarakat Ishikawa tampak asyik berturak cerita, dan mungkin bertukar resep makanan, dengan tamu-tamu yang datang dari seluruh Jepang.

Tradisi yang tak boleh terlewatkan adalah upacara minum teh atau dikenal dengan nama sado. Umumnya, sado dilakukan dalam ruang-ruang tradisional di pusat kebudayaan atau rumah pribadi. Kini, sado sudah banyak dijadikan hobi oleh masyarakat Jepang sendiri. Mereka memanggil seorang guru yang secara khusus mengajarkan tata cara upacara ini. Setiap gerakan tangan harus diperhatikan secara seksama.

Tak mau ketinggalan, saya juga ikut mengamatinya. Pertama-tama, tuan rumah mempersiapkan teh hijau mathca, yang dibuat dari serbuk daun teh. Kemudian serbuk tersebut dimasukkan foodpiake dalam mangkuk, diseduh air panas, dan diaduk sampai berbusa. Barulah teh disuguhkan kepada para tamu. Cara meminumnya pun tidak sembarangan. Teh harus diseruput hingga berbunyi, sebanyak tiga kali. Setelah meminum teh, tamu sebaiknya memperhatikan cangkirnya yang kosong bahkan sampai dasar cangkir. Ini pertanda tamu menghargai si tuan rumah. Setelah itu, tamu dipersilahkan mencicipi kucapan trtea ceremonyadisional Jepang yang sangat manis untuk ‘menyaingi’ rasa teh hijau yang sangat pahit. Camilan tradisional bernama wagashi ini biasanya didatangkan dari Kanazawa, Kyoto, atau Matsue.

Cendera Mata Daun Emas

Namanya juga wanita, mana mungkin saya melewatkan kesempatan untuk berbelanja. Begitu banyak kerajinan tangan khas Kanazawa yang ingin saya beli. Kerajinan yang paling menarik bagi saya adalah ‘daun emas’ (gold leaf), yang biasa disebut hokukoukan. Sanga indah dan elegan. Biasanya, daun emas ini digunakan sebagai dekorasi kerajinan tangan, memperindah peralatan untuk upacara minum teh, altar Budha, dan sulaman.daun_emas

Daun emas ini ditempa sampai setipis kertas, bahkan lebih tipis lagi. Ketebalannya (atau ketipisannya ya?) hanya sekitar 0,0001-0,0002 mm. Perajin di Ishikawa memang terlihat sangat terampil. Hal ini terlihat dari hasil produksinya sangat halus. Menurut salah seorang pengrajin, 98% daun emas yang dijual di seluruh Jepang berasal dari Kanazawa. Katanya, air murni di sana sangat ideal untuk membuat daun emas tersebut. Tapi, produksi daun emas ini memang tidak lepas dari mesin-mesin tempa modern yang berteknologi mutakhir. Kabarnya, teknik pembuatan daun emas ini didatangkan Maeda dari Cina ke Kanazawa tahun 1593.

Daun emas ini biasanya ditempel pada bahan tertentu. Lama proses penempelannya berbeda-beda bergantung motif yang dipesan. Rata-rata pengerjaannya bisa mencapai waktu 20 menit. Tapi,s aya tak pernah membayangkan daun emas itu akan menempel juga di atas makanan. Itulah sebabnya, suatu kali saya agak bingung ketika mengunjungi sebuah toko kue dan cokelat. Mata saya terpana melihat sepotong cokelat yang hiasannya cantik sekali yakni penuh taburan serbsulaman_kagauk berwarna emas yang sangat mirip dengan daun emas. Saya bertanya-tanya, apakah ini juga daun yang sama? Kok, bisa dimakan ya? Ketika saya tanyakan kepada penjaga toko, ia menjelaskan bahwa taburan di atas cokelat itu adalah emas murni tanpa tembaga. Jadi berbeda dengan yang biasa dijadikan hiasan ruangan. Namanya memang sama, gold leaf. Harga cokelatnya paling murah 350 yen (sekitar Rp. 30.000) untuk satu potong kecil cokelat (3 x 3 cm).

Selain itu juga yang menarik minat saya adalah sulaman kaga yang digunakan sebagai dekorasi tekstil. Konon sulaman ini mencerminkan selera keluarga Maeda. Sulaman ini menggambarkan motif-motif alam, misalnya pohon dan bunga. Warnanya juga disesuaikan dengan warna aslinya sampai tiga jenis gradasi warna.

Jika daun emas dibuat memakai mesin-mesin modern, proses penyulaman justru menggunakan teknik tradisional yang sederhana. Pertama-tama, sketsanya digambar di kertas kemudian dijiplak di atas sehelai kain. Sebelum mulai menyulam, benang-benang sutra dicelupkan ke bahan pewarna untuk mendapatkan benang berwarna-warni. Barulah benang tersebut disulamkan di kain yang sudah berpola. Dibutuhkan 15 teknik menyulam untuk menyelesaikan satu sulaman. Masing-masing teknik menggunakan jenis jarum sulam yang juga berbeda-beda.omicho_market

Namun, seiring perkembangan teknologi yang makin mutakhir, sulaman kaga berkembang menjadi gambar tiga dimensi yang mewah dan dijadikan sebagai motif obi (ikat pinggan kimono), uchikake (kimiono perkawinan), dan furisode (kimono berlengan panjang). Harganya lumayan mahal jika dibandingkan dengan uang saku saya sebagai mahasiswa

Selama di sana, saya beberapa kali mampir ke Pasar Omicho yang menyediakan bahan pangan. Hampir seluruh penduduk Kanazawa berbelanja kebutuhan sehari-hari di Omicho inii. Diperkirakan, setiap hari hampir 20.000 orang berbelanja di situ. Begitu memasuki pasar tradisional terlengkap ini, sesaat saya lupa bahwa saya tengah berada di tengah masyarakat Kanazawa yang modern. Hiruk-pikuk pasar di mana-mana ternyata sama saja! (Trina Tallei)