Ah, hatiku berdebar-debar, penasaran. Seperti apa sih negara Jerman yang sudah lama aku impikan untuk aku kunjungi. Setelah menempuh belasan jam di pesawat (Jakarta – Frankfurt) dan sekitar 3 jam perjalanan dari Frankfurt, sekitar jam 4 sore kami tiba di stasiun kereta api Witzenhausen Nord. Kami disambut oleh Maria dan Michu yang kemudian membawa kami ke Am Sande No. 1, tempat tinggal kami selama 2 bulan 1 minggu dalam rangka mengikuti pelatihan University Staff Development Program atau UNISTAFF yang diselenggarakan oleh ISOS (Institute for Socio-Cultural Studies), Universitas Kassel di Witzenhausen. Saya tidak menyangka kalau Witzenhausen itu adalah kota kecil. Walaupun kecil kotanya termasuk modern dan dilengkapi oleh beberapa supermarket dan infrastruktur lain yang modern serta merupakan tempat yang ideal untuk belajar.
Dengan penduduk sekitar 20.000 orang, Witzenhausen, yang dikenal juga dengan nama kota Cherry, terletak di sebelah utara Hessen, bagian tengah Jerman, dan dikelilingi oleh hutan Kaufunger dan gunung Hoher Meissner, kira-kira 40 km dari Kassel dan 25 km dari Goettingen. Kota ini terletak sangat dekat dengan perbatasan dengan German Democratic Republic dan merupakan salah satu jalan masuk utama ke Jerman Barat pada tahun 1989. Terdapat juga gereja “Liebfaruenkirche” yang dibangun mungkin sekitar tahun 1332, kapel St. Michael yang dibangun sekitar 1392 dan Rat Haus (Town Hall) yang dibangun tahun 1819. Wilhemmitenkloster pada tahun 1291 adalah sebuah kloster (biara) dan sekarang ini menjadi Institute of Ecological and International Rural Development, Universitas Kassel di Witzenhausen, di mana tempat kami belajar selama 2 bulan.
Di kota ini pada setiap tahun diadakan Cherry Festival dengan pemilihan cherry queen, old town festival, lomba meludah biji cherry (kirschsteinspucken), serta triathlon (bersepeda, berenang, dan lari) untuk pemilihan Cherry man.
Yang menyenangkan selain mengikuti training, setiap minggu kami memiliki kegiatan berkunjung ke kota-kota terdekat yang tentu saja menyimpan sejarah yang luar biasa, antara lain Bad-Sooden, Hann Muenden, Eisenach, Weimar, Kassel, Goettingen, Marburg, dan kota-kota besar lainnya seperti Berlin, Bonn, Cologne, Hamburg, dan Hannover. Kami dibuat tercengang-cengan karena setiap kota yang kami kunjungi memiliki keunikan dan sejarahnya sendiri.
Bad Sooden
Bad Sooden merupakan sebuah kota kecil di distrik Werra-Meissner-Kreis, masih di Hesse, di mana mengalir di dalamnya sungai Werra. Kota ini terletak tidak jauh dari Witzenhausen, hanya sekitar 1 jam perjalanan
menggunakan mobil. Kota kecil ini sangat rapih, kami merasa seperti di daerah dongeng.
East German Border Museum
Museum perbatasan Jerman Timur ini terletak di sebelah timur Bad Sooden – Allendorf, yang terletak di bagian tengah Jerman. Memasuk museum ini kami bisa merasakan suasana yang mencekan yang dialami oleh warga Jerman beberapa tahun yang lalu ketika masih ada pemisahan Jerman Barat dan Jerman Timur. Pada jaman dulu ketika masih ada Jerman barat dan Jerman Timur, orang-orang yang berusaha menyeberang secara ilegal melewati perbatasan ini ditangkap atau ditembak. Perbatasan ini dilengkapi dengan pagar-pagar setinggi kira-kira 2 meter yang terbuat dari baja dengan jeruji yang tajam dilengkapi dengan kawat berduri. Menara-menara pengawas ditempatkan pada posisi yang strategis di sepanjang perbatasan. Di samping itu, di sebelah pagar baja terdapat jalan untuk patroli. Di sebelah jalan, lahan berumput yang ditanami dengan ranjau-ranjau. Terdapat juga lampu pencari otomatis yang dilengkapi dengan senjata-senjata otomatis. Lahan berumput ini lebarnya ratusan meter. Di sebelah lapangan rumput ini (masih termasuk daerah terlarang) masih ada lagi pagar. Sehingga orang yang melarikan diri menyangka apabila sudah berada di lapangan rumput mereka sudah bebas, ternyata belum.
Peristiwa yang paling terkenal dari perbatasan ini adalah seorang penjaga dari Jerman Timur yang menyangka telah berhasil melintasi perbatasan dan sampai di Jerman Barat, tetapi ditembak ketika ia hampir saja mencapai pagar yang kedua. Dia menggunakan traktor dan meloncat dari atas traktor melewati pagar pertama, dan berlari menyeberangi lapangan rumput. Traktor yang dipakai oleh penjaga tersebut masih ada dan melihatnya saja kami sudah merasa seram, apalagi melihat lokasi penembakan walaupun dari jauh saja. Museum ini merupakan basis penjagaan di sepanjang perbatasan, dan kita masih dapat melihat bunker, menara dan pagar-pagarnya, juga helikopter buatan Rusia.
Eisenach
Eisenach, kota kecil lainnya yang menarik yang kami kunjungi ini kira-kira 1 jam perjalanan dari Witzenhausen. Bachhaus (Rumah Bach) di Eisenach merupakan museum pertama di dunia yang didedikasikan bagi Johann Sebastian Bach. Neue Bachgesselschaft (New Bach Society) membeli bangunan ini pada tahun 1906 karena menganggap gedung itu merupakan tempat lahirnya Bach. Sejak 1907, penghuni pada Frauenplan di Eisenach, yang sekarang berusia lebih dari 600 tahun, dijadikan museum. Tujuannya adalah untuk menyediakan informasi mengenai Bach kepada publik dan bagi yang peduli pada musik Bach. Teman kami, Ruth, dari Honduras sangat tergila-gila dengan museum ini mengingat dia memang mengajar musik di universitasnya. Tentu saja museum ini juga merupakan favoritnya Maggie (Costa Rica) yang mengajar sejarah dan Belen (Philppines) yang merupakan professor di bidang teater.
Kastil Wartburg
Kastil Wartburg terletak pada ketinggian 1230 m, melalui Eisenach, kota yang awalnya berada dalam genggaman tirai besi Jerman Timur. Kastil ini ditemukan oleh Duke Ludwig (Ludwig the Jumper) pada 1067 dan merupakan Kastil yang terawat dengan baik di Jerman, dipenuhi dengan ornamen abad pertengahan. Kastil ini direnovasi khususnya selama periode Roman pada abad 199. Tahun 1952-1966, seluruh kastil direstorasi oleh pemerintah Jerman Timur kembali ke abad 16. Martin Luther, yang dikucilkan oleh Paus dan dicabut perlindungan hukumnya oleh raja, mencari perlindungan dalam pondok pembantu kepala polisi di Wartburg. Selama berbulan-bulan perlindungannya, dia tinggal dan bekerja dalam suatu ruangan yang sempit, sekarang kamar itu disebut kamar Luther. Hanya dalam waktu 10 minggu dia menerjemahkan Perjanjian Baru dari teks asli bahasa Yunani ke bahasa Jerman.
Hann Munden
Kota kecil yang indah ini hampir saja terlupakan padahal jaraknya hanya 10 menit naik kereta api dari Witzenhausen Nord ke arah Kassel dan masih merupakan distrik Goettingen pada pertemuan sungai Fulda dan Werra, yang bergabung membentuk sungai Weser. Awalnya kami berniat mengunjungi Hann Munden hanya karena Nur (Jambi) bilang kalau di sana kita bisa naik perahu besar untuk melihat fenomena pertemuan antara dua sungai tersebut. Tapi kemudian kami batalkan karena untuk satu orang kami harus merogoh kocek 8 euro dan minimal penumpang harus 10 orang, sedangkan yang pergi saat itu hanya saya, Lani, Maggie, Nur dan Marjono (Malang), dengan demikian masing-masing dari kami harus membayar 16 euro. Walaupun demikian kami sangat terhibur melihat keindahan bangunan-bangunan kuno, terutama Rat Haus-nya yang memiliki arsitektur yang menawan.
Hann Muenden, awalnya disebut Hannoversch Muenden, merupakan kota kecil lainnya di Lower Saxony, Jerman. Penduduknya sekitar 28.000 orang dan terkenal karena rumah-rumah tuanya, beberapa di antaranya telah berusia 600 tahun. Alexander von Humboldt menyatakan bahwa Hannoversch Muenden merupakan satu dari tujuh kota-kota yang paling cantik di dunia. Tempat ini dikatakan sebagai sumbangan Gimundi kepada biara Fulda (tahun 802). Hak-hak kota mungkin diberikan selama abad ke 12. Nama kotanya awalnya adalah Muenden. Nama resminya diganti menjadi Hannoversch Muenden karena afiliasinya dengan kerajaan Hannover untuk membedakan Muenden dari Minden. Kemudian untuk menghindari kesalahpahaman dengan Hannover, nama kota disingkat menjadi Hann. Muenden. Penduduknya masih menyebut kotanya dengan Muenden. Kota ini memiliki lebih dari 700 rumah yang separuh dibuat dari kayu, yang dibangun pada periode abad ke 6. Kota ini berada di lembah dan dikelingi oleh bukit-bukit Reinhardswald, Bramwald dan Kaufungerwald. Sebelah timur dari pusat kota Muenden terdapat Taman Hutan, yang dibangun 100 tahun lalu oleh Academi Kehutanan, di sana terdapat ribuan spesies pohon. Di sebelah barat daya kota, dekat dengan Werra, di atas bukit terdapat Schloss (istana) yang dibangun sekitar abad 166, sekarang dijadikan pusat kebudayaan. Sayang sekali kami tidak sempat ke sana. Sedikit ke arah baart terdapat bengkel kerja seniman Ochsenkopf dan batu Werrabruecke (1397-1402). Di Markplatz, terdapat Rathaus (Town Hall), sebuah bangunan Gothic.
Kassel
Nama kota ini berasal dari kata kuno Castellum cattorum, sebuah kastil dari suku Chatti, suku Jerman yang tinggal di daerah ini sejak jaman Romawi. Kota ini terletak kira-kira 45 menit dari Witzenhausen, terletak di tengah Jerman, merupakan pusat industri, perkeretaapian, dan budaya. Terdapat juga pabrik termasuk tekstil, optik, lokomotif dan kendaraan. Kassel ditemukan tahun 913 dan diresmikan tahun 1198. Tahun 1567 menjadi ibu kota Hesse-Kassel. Kassel juga menjadi ibu kota kerajaan Westphalia (1897-1813) di bawah Jérôme Bonaparte (saudaranya Napoleon). Sebagai pusat produksi pesawat dan tank di Jerman pada Perang Dunia II, Kassel dihancurkan oleh sekutu melalui serangan udara sehingga banyak gedung-gedung bersejarah hancur. Gedung bersejarah yang bertahan terutama di luar kota. Kassel memiliki banyak museum yang penting. Eksibisi internasional (Dokumenta) seni modern diadakan setiap lima tahun sekali di kota dan dianggap sebagai salah satu ekshibisi seni terbesar di dunia. Tahun 2007, penduduknya mencapai sekitar 198.500 orang dan dengan luas area 106,77 kilometer persegi. Diceritakan bahwa pada awal abad 16, Grimm bersaudara tinggal di Kassel dan mengumpulkan serta menulis banyak sekali cerita dongeng.
Dari pusat kota kira-kira 20 menit menggunakan tram dan dilanjutkan 10 menit menggunakan bus ke arah utara dari Wilhelmshöhe kita bisa mendapatkan istana Wilhelmshöhe yang terletak di atas bukit, dibangun tahun 1786 oleh Wilhelm IX dari Hesse-Kassel. Istana sekarang menjadi museum dan galeri lukisan di mana merupakan koleksi kedua terbesar Rembrandt di Jerman terdapat di sana. Istana ini dikelilingi oleh taman yang indah. Dari istana kita dapat melihat suatu struktur batu besar yang berbentuk oktagonal di atasnya terdapat replika patung Herkules setinggi 8,5 m yang dibuat oleh Johann Jacob Anthoni (1713-1717) (patung asli Herkules terdapat di Museo Archeologico Nazionale di Naples, Italia), dan menjadi maskot kota. Dari dasar oktagon ini menuju istana Wilhelmshöhe, terdapat serangkaian kaskade yang memukau para pengunjung selama musim panas. Sepanjang kaskade ada banyak anak tangga di mana kita bisa menuruni bukit di samping air terjun. Air terjun hanya diaktifkan pada hari minggu mulai jam 3 sore. Sangat mengagumkan melihat air menuruni anak-anak tangga dengan mengeluarkan suara yang mengagumkan. Yang paling mengagumkan adalah air mancur yang muncul di taman di antara oktagon dengan istana Wilhelmshöhe yang bisa mencapai ketinggian 52 meter. Air mancur ini muncul akibat tekanan air yang meluncur melalui kaskade
Weimar
Kota weimar (2 jam perjalanan dari Witzenhausen dengan kereta api), terletak di daearah Thuringia (Thüringen). Sebelah utara kota ini adalah hutan Thueringer, timur Erfurt, barat laut Halle dan Leipzig. Dengan populasi sekitar 64.000, Weimar dulunya merupakan ibu kota Saxe-Weimar (Sachsen-Weimar). Kota ini merupakan situs budaya Eropa yang termasyur dan merupakan rumah bagi orang-orang termasyur seperti Bach, Goethe, Schiller, dan Herder. Juga merupakan tempat ziarah bagi cendekia Jerman sejak Goethe pindah ke Weimar di akhir abad 18.
Kota ini memiliki galeri seni, museum dan teater Nasional Jerman. Universitas Bauhaus dan Sekolah Musik Liszt menarik pelajar yang ingin mempelajari media dan desain, arsitektur, teknik sipil dan musik.
Selama perang Dunia II, di dekat Weimar kamp konsentrasi di Buchenwald, hutan kecil di mana sering dikunjungi Goethe, hanya sekitar 8 km dari pusat kota. European Council of Ministers memilih kota ini sebagai Pusat Budaya Eropa pada tahun 1999.
Johann Wolfgang von Goethe tinggal di rumah Barok (Goethe Haus) selama hampir 15 tahun. Perabotan yang dimiliki oleh Goethe masih terpelihara dengan baik begitu juga dengan pianonya. Demi konservasi, pengunjung untuk memasuki rumah Goethe dibatasi dan dilarang menyentuh dan memotret apa pun. Kami beruntung bisa memasukinya dengan membayar 6 Euro untuk setiap orang
Sayang, dua bulan lebih telah berlalu. Periode yang cukup lama namun terasa singkat ini menyisakan kenangan yang sangat banyak, di antaranya kebersamaan kami selama tinggal dalam satu bangunan, bersama-sama dengan teman-teman dari 10 negara lainnya dengan latar belakang etnis yang berbeda-beda, penuh dinamika dan setelah berpisah membuat kami saling merasa kangen satu sama lain. Untungnya ada fasilitas dunia maya alias internet sehingga kami masih bisa bertukar-tukar berita dalam satu maling list, dan kadang-kadang saling sms bahkan saling telefon satu sama lain (walau pun yang terakhir ini menguras banyak rupiah). Ada satu kesan yang tertinggal bahwa pada beberapa kota yang kami kunjungi, peninggalan sejarah misalnya rumah-rumah kuno yang berusia ratusan tahun yang terbuat dari kayu masih tetap di pertahankan walaupun di pusat kota sekalipun, begitu juga dengan museum-museum yang dikelola dengan sangat profesional. Semoga kota-kota di negara kita ini mengikuti jejak mereka. (Trina Tallei)
