Whole-hearted to Change

Change Your Words — Change Your World

Pesona Kota Tua KANAZAWA August 24, 2008

Filed under: Jalan-jalan — Trina Tallei @ 3:03 pm
Tags: , , , ,

(Femina, No.3/XXXIII, 20-26 Januari 2005)

Trina Tallei

Selain memiliki nilai historis, kota ini menyimpan segudang keindahan. Ibarat wanita matang yang rajin memoles diri, kota tua yang memikat ini tak ketinggalan zaman dibandingkan dengan kota lainnya di Jepang. Setahun di memberi saya banyak kesempatan untuk menjelajahi berbagai tempat bersejarah di sana dan mempelajari berbagai tradisi yang unik. Di Kanazawa, saya harus mengakui, betapa orang Jepang jago mempertemukan tradisi dan perkembangan kemajuan secara harmonis.

Kota Tua yang Modern

Kanazawa merupakan ibukota Ishikawa perfecture, sebuah daerah administrasi di sepanjang Laut Jepang. Kota ini terbilang besar, walaupun penduduknya hanya sekitar 450.000 jiwa. Lalu lintasnya cukup padat. Sebagian besar jalan di sini dipadati bus kota. Kanazawa merupakan kota kedua terbesar (setelah Kyoto) yang lolos dari serangan udara ketika meletus Perang Dunia II. Karena itu, k ondisi sejumlah kastil, kuil, dan tempat wisata di sana tetap terjada baik.

Kota yang tenang ini juga dikenal sebagai perpustakaan dunia karena menyimpan banyak koleksi artis dan ilmuwan. Selain itu, Kanazawa telah melahirkan filsuf ternama, Suzuki Daisetsu dan Nishida Kitaro, penulis Izumi Kyoka dan Tokouda Shusei, serta penyair Muro Saisei.

Sejak zaman Shogun, penduduk Kanazawa telah mempelajari berbagai budaya dan tradisi Jepang. Tak mengherankan, Kanazawa juga sering disebut sebagai harta karun seni tradisional. Salah satu sejarah yang perlu diketahui adalah lahirnya jenis teater baru. Pada abad ke-14, pemain sandiwara Sarugaku, Kiyotsugu Kan’ami, bersama puteranya, Motokiyo, menciptakan jenis teater yang menggabungkan elemen Sarugaku dan Dengaku.

enjoy_zakura

Salah satu yang yang menarik perhatian saya di Kanazawa adalah Taman Kenroku-en, salah satu taman terindah di Jepang. Taman yang terletak di luar Kastil Kanazawa ini adalah milik pribadi keluarga Toshije Maeda (raja pertama kelompok masyarakat Maeda). Taman seluas 10,1 hektar yang kabarnya dibangun selama lebih dari dua abad ini tertutup untuk umum sampai tahun 1871. Di taman ini terdapat banyak kolam, sungai kecil, air terjun, jembatan, rumah teh, dan berbagai macam bunga. Sistem perairan Kenroku-en terbilang unik. Pada 1632, dengan menggunakan teknologi canggih, dari sebuah sungai yang terletak di bawah taman, dialirkan air ke taman tersebut.

Kenroku-en bermakna ‘Taman dengan Enam Keagungan’, karena memiliki enam faktor yang menjadi keunikannya: luas area, keantikan, jumlah air, pemandangan indah, cara pembuatannya, dan lokasi.

 

kenrokuen_dingin_gugur

Menurut teori Cina, semua hal tersebut adalah enam faktor yang membuat taman menjadi sempurna. Pada akhir musim gugur, pohon-pohon di taman tersebut dipersiapkan agar mampu menghadapi salju yang lebat ketika musim dingin tiba. Agar tidak mudah patah, dahan-dahan pohon  disanggah oleh kait dan tali sehingga membentuk pola unik yang disebut yukitsure.

Kastil Kanazawa merupakan tempat tinggal keluarga Maeda sejak Toshije Maeda pertama kali mengginjakkan kaki di sana (1583). Berdasarkan sejarah, kastil ini sudah beberapa kali terbakar. Yang terakhir terjadi pada 1881, dan hanya menyisakan gerbang Ishikawa yang berada di sebelah utara taman, persis menghadap Kenroku-en. Pada Marea 1998, kastil itu mulai dibakenrokuen_malam_panasngun kembali, setelah sekitar 3 tahun bangunan Hishi-yagura, Gojikken-nagaya, dan Hazhizu-memon berhasil direstorasi. Ketiga bangunan ini adalah kastil kayu yang terbesar di Jepang sejak era Meiji.

Bangunan bersejarah lainnya adalah Oyama Shrine yang khusus didirikan bagi Toshije Maeda pada 1599. Di tempat suci ini terdapat sebuah gerbang, bagian dari Kastil Kanazawa, yang kemudian menjadi gerbang utama Oyama Shrine. Dari Stasiun Kanazawa, Oyama bisa ditempuh selama 10 menit berkendara menggunakan bus.

Ada area yang begitu menarik perhtaian saya, yaitu Nagamachi, yang dulunya terletak di bawah Kastil Kanazawa. Nagamachi adalah tempat tinggal para samuari. Suasana bersejarahnya sangat terasa, karena rumah samurai berdinding tanah liat dan jalanan di situ berupa jalan setapak. Rumah Nomura yang berada di daerah ini merupakan salah satu rumah Samurai yang elegan.

                        rumah_samurai_nomura

 

Selain rumah samurai, terdaapt Kaga Yuzen, yaitu workshop pewarnaan sutra yang bisa dikunjungi oleh wisatawan. Di oyama_shrinesini, wisatawan memperoleh pengetahuan tentang cara mencampur warna dan  melukis rancangan gambar di atas selembar sutra.

Satu tempat yang tak boleh dilewatkan adalah area Teramachi (disebut juga sebagai Kota Kuil). Bangunan utamanya Ninjadera (artinya mata-mata Jepang) atau Kuil Ninja. Disebut begitu karena di lokasi ini banyak terdapat tempat yang digunakan untuk pertahanan diri misalnya terowongan tersembunyi, kamar rahasia, labirin, dan tangga-tangga yang rumit. Untuk memasuki area Ninja-dera, wisatawan harus melalui reservasi terlebih dahulu dan harus ditemani pemandu karena kalau tidak bisa tersesat di dalamnya.

 

 

                          ninja_dera

 

Menikmati Beragam Festival

Saya sempat menyaksikan festival Hyakumangoku yang diadakan setiap 14 Juni. Acara ini dilakukan untuk mengenang datangnya Toshije Maeda di Kanazawa. Saat festival berlangsung, jalanan kota dipenuhi parade prajurit yang mendemonstrasikan cara Toshije mengambil alih kastil. Kolam dan sungai di sekitarnya dihiasi lentera kertas. Sungguh merupakan pemandangan yang indah sekali!

hyakumongaku

Salah satu kejadian yang juga unik bagi saya adalah festival Otabi di Komatsu. Sebagai mahasiswa asing di Universitas Kanazawa, kami diberi kesempatan untuk menginap satu malam di rumah keluarga Jepang. Tempat yang kami pilih adalah Komatsu, sister city Kanazawa. Saya menginap di rumah keluarga Tsujii, seorang profesor di salah satu universitas negeri di Komatsu. Mereka sekeluarga sangat ramah.s aya terperangah ketika mendapati bahwa di rumah itu juga bermukim ibunda Tsujii yang berumur 80 tahun dan neneknya Tsujii yang berusia 105! Anehnya, ia sama sekali tidak pikun dan matanya masih sangat tajam dan awas.

Ketika tinggal di sana, kebetulan sedang berlangsung festival tahunan Otabi. Mikoshi (kuil yang ditandu) dari Ubashi Shrine dan Moori Hiyoshi Shrine diarak berkeliling kota. Kami juga membantu menarik arak-arakan tersebut. Anak-anak juga ikut serta dalam kemeriahan festival. Mereka pun menyuguhkan pertunjukan teater Kabuki.

otabi_festival

Tak ketinggalan pula festival Foodpia Kanazawa, yaitu festival makanan. Biasanya festival ini diadakan di awal Februari di berbagai area di seluruh Ishikawa. Pengunjung mendapat kesempatan mencicipi aneka makanan khas Ishikawa. Masyarakat Ishikawa tampak asyik berturak cerita, dan mungkin bertukar resep makanan, dengan tamu-tamu yang datang dari seluruh Jepang.

Tradisi yang tak boleh terlewatkan adalah upacara minum teh atau dikenal dengan nama sado. Umumnya, sado dilakukan dalam ruang-ruang tradisional di pusat kebudayaan atau rumah pribadi. Kini, sado sudah banyak dijadikan hobi oleh masyarakat Jepang sendiri. Mereka memanggil seorang guru yang secara khusus mengajarkan tata cara upacara ini. Setiap gerakan tangan harus diperhatikan secara seksama.

Tak mau ketinggalan, saya juga ikut mengamatinya. Pertama-tama, tuan rumah mempersiapkan teh hijau mathca, yang dibuat dari serbuk daun teh. Kemudian serbuk tersebut dimasukkan foodpiake dalam mangkuk, diseduh air panas, dan diaduk sampai berbusa. Barulah teh disuguhkan kepada para tamu. Cara meminumnya pun tidak sembarangan. Teh harus diseruput hingga berbunyi, sebanyak tiga kali. Setelah meminum teh, tamu sebaiknya memperhatikan cangkirnya yang kosong bahkan sampai dasar cangkir. Ini pertanda tamu menghargai si tuan rumah. Setelah itu, tamu dipersilahkan mencicipi kucapan trtea ceremonyadisional Jepang yang sangat manis untuk ‘menyaingi’ rasa teh hijau yang sangat pahit. Camilan tradisional bernama wagashi ini biasanya didatangkan dari Kanazawa, Kyoto, atau Matsue.

Cendera Mata Daun Emas

Namanya juga wanita, mana mungkin saya melewatkan kesempatan untuk berbelanja. Begitu banyak kerajinan tangan khas Kanazawa yang ingin saya beli. Kerajinan yang paling menarik bagi saya adalah ‘daun emas’ (gold leaf), yang biasa disebut hokukoukan. Sanga indah dan elegan. Biasanya, daun emas ini digunakan sebagai dekorasi kerajinan tangan, memperindah peralatan untuk upacara minum teh, altar Budha, dan sulaman.daun_emas

Daun emas ini ditempa sampai setipis kertas, bahkan lebih tipis lagi. Ketebalannya (atau ketipisannya ya?) hanya sekitar 0,0001-0,0002 mm. Perajin di Ishikawa memang terlihat sangat terampil. Hal ini terlihat dari hasil produksinya sangat halus. Menurut salah seorang pengrajin, 98% daun emas yang dijual di seluruh Jepang berasal dari Kanazawa. Katanya, air murni di sana sangat ideal untuk membuat daun emas tersebut. Tapi, produksi daun emas ini memang tidak lepas dari mesin-mesin tempa modern yang berteknologi mutakhir. Kabarnya, teknik pembuatan daun emas ini didatangkan Maeda dari Cina ke Kanazawa tahun 1593.

Daun emas ini biasanya ditempel pada bahan tertentu. Lama proses penempelannya berbeda-beda bergantung motif yang dipesan. Rata-rata pengerjaannya bisa mencapai waktu 20 menit. Tapi,s aya tak pernah membayangkan daun emas itu akan menempel juga di atas makanan. Itulah sebabnya, suatu kali saya agak bingung ketika mengunjungi sebuah toko kue dan cokelat. Mata saya terpana melihat sepotong cokelat yang hiasannya cantik sekali yakni penuh taburan serbsulaman_kagauk berwarna emas yang sangat mirip dengan daun emas. Saya bertanya-tanya, apakah ini juga daun yang sama? Kok, bisa dimakan ya? Ketika saya tanyakan kepada penjaga toko, ia menjelaskan bahwa taburan di atas cokelat itu adalah emas murni tanpa tembaga. Jadi berbeda dengan yang biasa dijadikan hiasan ruangan. Namanya memang sama, gold leaf. Harga cokelatnya paling murah 350 yen (sekitar Rp. 30.000) untuk satu potong kecil cokelat (3 x 3 cm).

Selain itu juga yang menarik minat saya adalah sulaman kaga yang digunakan sebagai dekorasi tekstil. Konon sulaman ini mencerminkan selera keluarga Maeda. Sulaman ini menggambarkan motif-motif alam, misalnya pohon dan bunga. Warnanya juga disesuaikan dengan warna aslinya sampai tiga jenis gradasi warna.

Jika daun emas dibuat memakai mesin-mesin modern, proses penyulaman justru menggunakan teknik tradisional yang sederhana. Pertama-tama, sketsanya digambar di kertas kemudian dijiplak di atas sehelai kain. Sebelum mulai menyulam, benang-benang sutra dicelupkan ke bahan pewarna untuk mendapatkan benang berwarna-warni. Barulah benang tersebut disulamkan di kain yang sudah berpola. Dibutuhkan 15 teknik menyulam untuk menyelesaikan satu sulaman. Masing-masing teknik menggunakan jenis jarum sulam yang juga berbeda-beda.omicho_market

Namun, seiring perkembangan teknologi yang makin mutakhir, sulaman kaga berkembang menjadi gambar tiga dimensi yang mewah dan dijadikan sebagai motif obi (ikat pinggan kimono), uchikake (kimiono perkawinan), dan furisode (kimono berlengan panjang). Harganya lumayan mahal jika dibandingkan dengan uang saku saya sebagai mahasiswa

Selama di sana, saya beberapa kali mampir ke Pasar Omicho yang menyediakan bahan pangan. Hampir seluruh penduduk Kanazawa berbelanja kebutuhan sehari-hari di Omicho inii. Diperkirakan, setiap hari hampir 20.000 orang berbelanja di situ. Begitu memasuki pasar tradisional terlengkap ini, sesaat saya lupa bahwa saya tengah berada di tengah masyarakat Kanazawa yang modern. Hiruk-pikuk pasar di mana-mana ternyata sama saja! (Trina Tallei)

 

Leave a Reply